
visitcentraljava.com, Semarang. Wayang Anak dan Ketoprak Meriahkan Panggung Budaya Semarang, Ngesti Pandowo Dorong Regenerasi Seni Tradisi
Pertunjukan bertajuk Wayang Anak dan Ketoprak dalam Satu Panggung berlangsung di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu malam (31/10/2026). Pagelaran yang terbuka gratis bagi masyarakat tersebut menghadirkan dua bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa, yakni wayang orang yang dimainkan anak-anak dan ketoprak oleh kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara generasi muda yang sedang mempelajari kesenian tradisional dengan para seniman yang telah lama berkecimpung di dunia pertunjukan.
Dalam acara tersebut, sekitar 25 anak dan pelajar peserta program Akademi Wayang tampil membawakan lakon Babad Wonomarto. Mereka memerankan tokoh-tokoh pewayangan melalui perpaduan dialog, gerakan tari, ekspresi, serta iringan musik tradisional. Sebelum tampil di hadapan masyarakat, para peserta telah menjalani pelatihan selama kurang lebih satu bulan. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman langsung bagi mereka untuk mengenal proses pementasan wayang orang, mulai dari memahami karakter hingga menyesuaikan gerakan dengan alur cerita.
Lakon Babad Wonomarto mengisahkan perjuangan lima bersaudara Pandawa, yaitu Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, dalam mengubah kawasan hutan belantara menjadi sebuah kerajaan yang makmur bernama Amarta atau Indraprastha. Perjalanan tersebut diwarnai berbagai tantangan yang harus diselesaikan melalui keberanian dan kerja sama. Selain menyajikan kisah kepahlawanan, cerita ini juga mengandung pesan mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, gotong royong, serta pentingnya membangun kehidupan bersama.
Sementara itu, kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo turut menampilkan pertunjukan ketoprak berjudul Laskar Diponegoro. Berbeda dengan cerita pewayangan yang dibawakan anak-anak, lakon ini mengangkat peristiwa sejarah Perang Jawa pada 1825–1830, khususnya perjuangan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam menghadapi kekuasaan kolonial Belanda. Kisah tersebut menggambarkan perlawanan terhadap penindasan, beban pajak yang memberatkan masyarakat, serta campur tangan kolonial dalam kehidupan rakyat dan lingkungan keraton.
Pementasan kedua lakon tersebut diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pertunjukan disutradarai Budi Lee, dengan Paminto Krisna sebagai penata tari dan Githung Swara sebagai penata musik. Unsur drama, dialog, gerak tari, dan musik tradisional dirangkai untuk menghidupkan masing-masing cerita. Selain disaksikan langsung oleh masyarakat di Gedung Sri Budoyo, pagelaran ini juga disiarkan melalui kanal digital Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sehingga dapat menjangkau penonton yang lebih luas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyampaikan bahwa pelestarian budaya perlu dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terlibat langsung dalam pertunjukan. Program Akademi Wayang sendiri berawal dari arahan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti agar anak-anak memperoleh pembelajaran seni wayang orang bersama Ngesti Pandowo. Ketua Harian Wayang Orang Ngesti Pandowo, Joko Moeljono, juga menilai regenerasi pemain menjadi kebutuhan penting agar kesenian tersebut tetap memiliki penerus.
Pertemuan wayang anak dan ketoprak dalam satu panggung sekaligus memperlihatkan upaya menghidupkan kembali tradisi pertunjukan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Ngesti Pandowo. Kelompok seni tersebut diketahui pernah menggelar ketoprak secara rutin setiap Rabu malam dan turut berkontribusi terhadap perkembangan kesenian ketoprak di Jawa Tengah. Melalui pementasan 31 Oktober 2026, Ngesti Pandowo bersama Pemerintah Kota Semarang menghadirkan ruang pembelajaran sekaligus regenerasi seniman, dengan harapan anak-anak yang mulai mengenal panggung tradisional saat ini dapat menjadi bagian dari keberlanjutan seni pertunjukan di masa mendatang. (mh)













