
visitcentraljava.com, Semarang. Sanggar Greget Hidupkan Legenda Laksamana Cheng Ho Lewat Sendratari Kolosal di Sam Poo Kong.
Kawasan wisata Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, menjadi panggung pertunjukan budaya melalui pementasan sendratari kolosal “The Legend of Cheng Ho” yang dipersembahkan Sanggar Greget Semarang dalam rangka Greget Festival Tari (GFestar) ke-67. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah persinggahan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang sekitar enam abad silam sebagai simbol lahirnya akulturasi budaya yang hingga kini masih menjadi identitas Kota Semarang.
Sebanyak sekitar 150 penari dari berbagai kelompok usia tampil membawakan drama tari tanpa jeda selama kurang lebih dua jam. Melalui rangkaian koreografi yang memadukan unsur tari tradisional Semarangan dan budaya pesisir, penonton diajak mengikuti perjalanan armada Cheng Ho dari Tiongkok hingga singgah di kawasan Simongan yang kini dikenal sebagai Sam Poo Kong.
Ketua Sanggar Greget Semarang, Sangghita Anjali, menjelaskan bahwa kisah Cheng Ho dipilih karena memiliki hubungan historis yang erat dengan Kota Semarang sekaligus merepresentasikan semangat toleransi dan pertemuan berbagai budaya. “Pada GFestar ke-67 ini, kami ingin kembali mengangkat tema yang dekat dengan Kota Semarang. Ceng Ho menjadi pilihan menarik karena secara historis beliau pernah singgah di Semarang. Dari peristiwa itu kemudian lahir akulturasi budaya yang sangat baik. Kami mencoba menginterpretasikan persinggahan tersebut sebagai simbol pertemuan dan perpaduan berbagai budaya,” ujarnya.
Selain menjadi hiburan, pertunjukan ini juga menghadirkan nilai edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo, menilai sosok Cheng Ho merupakan simbol keterbukaan budaya yang telah membentuk karakter Semarang sebagai kota pelabuhan multikultural. Melalui seni pertunjukan, sejarah tersebut dikemas lebih menarik agar mudah dipahami dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pementasan “The Legend of Cheng Ho” mendapat apresiasi karena tidak hanya menghidupkan kembali kisah sejarah, tetapi juga memperkuat citra Sam Poo Kong sebagai destinasi wisata budaya di Kota Semarang. Greget Festival Tari ke-67 sekaligus menjadi bukti bahwa seni pertunjukan mampu menjadi media pelestarian sejarah, mempererat keberagaman, serta memperkuat identitas budaya Kota Semarang di tengah perkembangan zaman. (mth)














