
visitcentraljava.com, Semarang. Festival Dalang Anak dan Remaja 2026, Ajang Lahirnya Generasi Penerus Seni Pedalangan.
Festival Dalang Anak dan Remaja Kota Semarang 2026 telah mencapai babak final pada Selasa (20/10/2026) di Gedung Sri Budoyo, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang tersebut menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk memperlihatkan kemampuan mereka dalam seni pedalangan. Ajang ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi pewayangan agar tetap dikenal dan diminati oleh generasi muda.
Dalam kompetisi tersebut, terdapat enam finalis yang bertanding dalam dua kelompok, yakni kategori anak dan remaja. Masing-masing kategori diikuti tiga peserta yang berhasil mencapai tahap akhir perlombaan. Para peserta menunjukkan keterampilan mendalang melalui penguasaan cerita, penggerakan wayang, penyampaian dialog, serta kemampuan membangun suasana pertunjukan. Penyelenggaraan kompetisi ini tidak hanya memberikan ruang untuk beradu kemampuan, tetapi juga mendorong peserta mengembangkan pemahaman terhadap seni pewayangan.
Pada kategori anak, Dafandra Aradhana Djuanda berhasil memperoleh juara pertama. Posisi kedua diraih Rafardhan Jovan Arifianto, sedangkan Kenzi Banyu Alghifgari menempati peringkat ketiga. Sementara itu, kategori remaja dimenangkan oleh Muhamad Faiz Dwi Prasetya, disusul Muhammad Fiorello Falah Rahadian sebagai juara kedua dan Dhuha Dimas Maulana di posisi ketiga. Hasil tersebut menunjukkan munculnya sejumlah talenta muda yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan tradisi seni pedalangan di Kota Semarang.
Pencapaian Muhamad Faiz Dwi Prasetya turut menjadi perhatian karena ia merupakan siswa kelas IX SMP Negeri 17 Semarang. Faiz berhasil meraih peringkat tertinggi kategori remaja setelah menampilkan kemampuan mendalang dalam kompetisi yang berlangsung di TBRS. Prestasi tersebut juga mendapat perhatian dari lingkungan sekolahnya sebagai pencapaian di bidang seni dan kebudayaan. Keberhasilannya memperlihatkan bahwa kegiatan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan aktivitas pendidikan di kalangan pelajar.
Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini memiliki arti penting dalam proses regenerasi dalang. Seni pedalangan membutuhkan keterampilan yang tidak hanya berkaitan dengan menggerakkan tokoh wayang, tetapi juga mencakup kemampuan bertutur, memahami karakter, mengolah dialog, serta menyampaikan pesan melalui cerita. Karena itu, keterlibatan anak-anak dan remaja dalam pertunjukan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan berbagai aspek kesenian tersebut sejak dini.
Upaya membina generasi penerus dalang juga terlihat melalui kegiatan seni lain di Semarang. Pada September 2026, misalnya, dalang cilik Dafandra Aradhana Djuanda turut tampil dalam pagelaran wayang kulit kolaboratif yang melibatkan PEPADI Kota Semarang, RRI Semarang, dan TVRI Jawa Tengah. Keterlibatan dalang muda dalam berbagai panggung pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa proses pengenalan seni pedalangan tidak berhenti pada perlombaan, tetapi perlu dilanjutkan melalui kesempatan tampil dan pembinaan secara berkelanjutan.
Melalui Festival Dalang Anak dan Remaja 2026, Kota Semarang kembali memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam menjaga warisan budaya Jawa. Keberhasilan para peserta diharapkan dapat menjadi dorongan untuk terus berlatih dan mengembangkan kemampuan, sekaligus menarik minat anak-anak serta remaja lainnya terhadap seni pewayangan. Dengan dukungan keluarga, sekolah, sanggar, komunitas seni, dan pemerintah daerah, regenerasi dalang diharapkan terus berlangsung sehingga tradisi pedalangan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (mh)














