
visitcentraljava.com, Semarang. Mooncake Festival 2026 Padukan Tradisi, Seni, Kuliner, dan Teknologi di Pecinan Semarang.
Mooncake Festival 2026 bertajuk “Cahaya Harmoni Semarang” menjadi bagian dari rangkaian kegiatan budaya di kawasan Pecinan Semarang pada 23–27 September 2026. Festival ini memadukan tradisi Tionghoa dengan seni, sejarah, kuliner, teknologi, dan aktivitas masyarakat. Salah satu pusat kegiatan berada di Klenteng Tay Kak Sie, sementara berbagai agenda lain tersebar di kawasan Pecinan, termasuk Heritage Food Festival di Gang Warung.

Festival tersebut resmi dibuka Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti di Klenteng Tay Kak Sie pada Kamis (24/9/2026). Dalam pembukaannya, Agustina menekankan bahwa keberagaman budaya Semarang merupakan bagian dari perjalanan kota yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menurutnya, tradisi yang berkembang di Pecinan tidak hanya perlu dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dapat terus hidup melalui keterlibatan masyarakat dan generasi baru.
Semangat akulturasi juga ditampilkan melalui berbagai pertunjukan budaya dan kegiatan lintas komunitas. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pertunjukan imersif mengenai Laksamana Cheng Ho yang memanfaatkan teknologi visual untuk menghidupkan kembali kisah sejarah. Selain itu, rangkaian festival turut mencakup kirab budaya, pertunjukan Gambang Semarang, barongsai, Wayang Kulit, serta video mapping yang mengangkat kisah Hou Yi dan Chang’e melalui proyeksi visual dan tata suara di Klenteng Tay Kak Sie.

Aspek kuliner menjadi bagian penting dalam festival melalui Heritage Food Festival 2026 yang melibatkan 75 tenant UMKM di kawasan Gang Warung. Kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut membuat kegiatan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kuliner sekaligus mengenal produk dan usaha yang berkembang di kawasan Pecinan. Rangkaian kegiatan juga menjadi bagian dari penguatan Pecinan sebagai kawasan wisata budaya berbasis masyarakat.
Pesan kebersamaan turut diwujudkan melalui tradisi Jamuan Makan Tok Panjang di Klenteng See Hoo Kiong. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat, perwakilan kelenteng, dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kota Semarang duduk bersama dalam satu meja. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai jamuan makan, tetapi juga menjadi ruang interaksi dan silaturahmi. Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 sekaligus Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, menyebut bentuk bulat kue bulan sebagai simbol keutuhan dan persatuan yang sejalan dengan pesan kerukunan serta keharmonisan.
Pelaksanaan Mooncake Festival juga berlangsung bersamaan dengan upaya pengembangan kawasan Pecinan sebagai destinasi budaya dan wisata. Pemerintah Kota Semarang mendorong penataan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis dengan tetap mempertahankan karakter kawasan serta kehidupan masyarakat yang telah tumbuh di dalamnya. Kawasan Pecinan sendiri kini dikembangkan sebagai Desa Wisata Krabat Pecinan, dengan potensi berupa sejarah, kuliner, klenteng, komunitas, dan aktivitas budaya yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Selain agenda budaya, pelaksanaan festival juga berdampak pada pengaturan aktivitas kawasan. Pemerintah Kota Semarang memberlakukan pengalihan arus lalu lintas selama 23–27 September di sekitar Simpang Gapura Pecinan, Jalan Beteng, Jalan Wotgandul Barat, dan Jalan Gang Warung, dengan sejumlah lokasi yang disiapkan sebagai titik parkir. Secara keseluruhan, Mooncake Festival 2026 memperlihatkan kawasan Pecinan sebagai ruang yang mempertemukan warisan Tionghoa, akulturasi budaya, UMKM, teknologi, komunitas, dan kehidupan masyarakat Semarang dalam satu rangkaian perayaan. (mh)














