
visitcentraljava.com, Semarang. Peringatan Pertempuran Lima Hari ke-81 Digelar di Tugu Muda, Libatkan Lebih dari 2.000 Orang.
Peringatan ke-81 Pertempuran Lima Hari di Semarang berlangsung di kawasan Tugu Muda dan halaman Museum Mandala Bhakti pada Rabu malam, 14 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Sosial sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pejuang dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peringatan tahunan ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Kota Semarang.
Pelaksanaan tahun ini melibatkan lebih dari 2.000 orang dari berbagai unsur. Sebanyak 1.051 peserta mengikuti upacara, terdiri atas personel TNI, Polri, taruna, pelajar, mahasiswa, hingga relawan sosial. Selain itu, terdapat sekitar 300 tamu undangan serta personel pendukung dari 37 instansi dan perangkat daerah. Keterlibatan berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa peringatan sejarah ini tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat luas.
Salah satu bagian utama acara adalah pertunjukan drama kolosal teatrikal sejarah yang dibawakan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang bersama Teater Pitoelas dan sejumlah pihak terkait. Pementasan tersebut menggambarkan kembali suasana pertempuran serta perjuangan para pemuda dan masyarakat Semarang ketika menghadapi tentara Jepang pada Oktober 1945. Melalui pertunjukan di kawasan Tugu Muda, kisah perjuangan masa lalu disampaikan dalam bentuk seni pertunjukan agar lebih mudah dipahami dan menarik perhatian generasi muda.
Selain teatrikal, rangkaian kegiatan juga mencakup upacara peringatan, napak tilas, serta pembacaan cukilan sejarah yang mengulas kembali jalannya pertempuran. Pembacaan sejarah tersebut menjadi bagian penting untuk memberikan pemahaman mengenai latar belakang, tokoh, dan pengorbanan yang terjadi selama peristiwa berlangsung. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng turut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan sejarah perjuangan yang terjadi di kota mereka sendiri. mail.kompimpro.semarangkota.go.id+1
Pertempuran Lima Hari di Semarang sendiri berlangsung pada 14–18 Oktober 1945, tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Peristiwa tersebut bermula ketika delapan anggota Polisi Istimewa yang bertugas menjaga tandon air Wungkal diserang tentara Jepang. Pada malam harinya, dr. Kariadi gugur setelah dicegat ketika hendak memeriksa informasi mengenai dugaan peracunan sumber air. Ketegangan kemudian meningkat ketika ribuan tentara Jepang bersenjata lengkap memasuki pusat kota dan mendapat perlawanan dari pemuda, anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), polisi, serta masyarakat.
Pertempuran tersebut berakhir pada 18 Oktober 1945 setelah melalui proses perundingan. Peristiwa itu meninggalkan korban jiwa dalam jumlah besar, dengan sedikitnya 2.000 pemuda dan pejuang dilaporkan gugur. Untuk memperluas pengenalan sejarah kepada masyarakat, rangkaian peringatan tahun ini juga dilengkapi pameran kesejarahan dan bazar UMKM. Salah satu agenda pameran bertajuk “Dari Semarang Kita Mulai” diselenggarakan pada 14–20 Oktober 2026 di Lawang Sewu dan Rumah PoHan, kawasan Kota Lama, dengan menghadirkan dokumentasi sejarah, kelas terbuka, serta diskusi literasi sejarah.
Melalui peringatan tersebut, Pemkot Semarang berharap nilai keberanian, pengorbanan, persatuan, dan pengabdian para pejuang dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Agustina menekankan bahwa semangat perjuangan tidak sebatas dikenang melalui upacara tahunan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bekerja dan melayani masyarakat. Dengan demikian, peringatan Pertempuran Lima Hari tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan sarana menjaga ingatan kolektif sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah Kota Semarang.














