
visitcentraljava.com, Semarang. PAMERAN FILATELI DI KOTA LAMA SEMARANG ANGKAT JEJAK PENDUDUKAN JEPANG DAN SEJARAH BANGSA LEWAT ARSIP POS
Kawasan Kota Lama Semarang kembali menjadi pusat kegiatan sejarah dan budaya melalui penyelenggaraan pameran filateli bertajuk “Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1942–1945)”. Pameran yang digelar di Rumah PoHan ini menjadi salah satu destinasi edukatif bagi masyarakat dan wisatawan selama masa liburan, sekaligus menghadirkan cara berbeda untuk memahami perjalanan sejarah bangsa melalui koleksi filateli yang autentik dan bernilai tinggi.
Pameran yang berlangsung pada 31 Mei hingga 7 Juni 2026 tersebut dapat dikunjungi secara gratis oleh masyarakat. Berbagai koleksi bersejarah ditampilkan, mulai dari prangko, surat-surat kuno, hingga dokumen pos yang berasal dari masa pendudukan Jepang di Indonesia. Koleksi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai kondisi sosial, komunikasi, serta kehidupan masyarakat pada periode 1942 hingga 1945 yang menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Melalui pameran ini, penyelenggara berupaya memperkenalkan filateli tidak hanya sebagai kegiatan koleksi atau hobi semata, melainkan sebagai sumber informasi sejarah yang memiliki nilai akademis dan edukatif. Setiap prangko, cap pos, dan surat yang dipamerkan menjadi saksi bisu berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu serta merekam perubahan sosial dan politik yang berlangsung di Indonesia.
Rangkaian kegiatan semakin menarik dengan hadirnya sejumlah diskusi publik bertema sejarah dan kebudayaan. Salah satu agenda utama adalah Orasi Publik Filateli yang disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dengan tema “Membaca Sejarah Bangsa Melalui Arsip Filateli”. Kehadiran tokoh nasional tersebut menambah nilai penting pameran sebagai ruang edukasi sekaligus refleksi sejarah bagi masyarakat luas.
Dalam orasinya, Fadli Zon menegaskan pentingnya arsip filateli sebagai sumber sejarah yang mampu memberikan pemahaman lebih utuh mengenai perjalanan bangsa. “Membaca Sejarah Bangsa Melalui Arsip Filateli” menjadi pesan utama yang menyoroti bahwa setiap prangko dan dokumen pos menyimpan catatan berharga tentang dinamika sosial, budaya, dan politik pada zamannya. Ia juga mengingatkan bahwa sejarah perlu dipahami secara kritis berdasarkan sumber-sumber yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Momentum tersebut juga ditandai dengan penandatanganan dua sampul peringatan oleh Menteri Kebudayaan bersama Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Sampul pertama memperingati Hari Jadi ke-479 Kota Semarang, sedangkan sampul kedua menjadi penanda khusus penyelenggaraan pameran filateli bertema pendudukan Jepang. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga dan mempromosikan warisan sejarah kepada generasi mendatang.
Fadli Zon turut mengajak masyarakat untuk melihat masa pendudukan Jepang secara lebih komprehensif. Menurutnya, periode tersebut memang menyisakan penderitaan dan tekanan bagi rakyat Indonesia, namun juga menjadi bagian penting dari dinamika sejarah yang pada akhirnya turut membuka jalan menuju kemerdekaan. Pemahaman yang utuh terhadap sejarah diharapkan mampu membentuk generasi muda yang lebih kritis dan menghargai perjalanan bangsa.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, memberikan apresiasi atas terselenggaranya pameran filateli yang dinilai memperkuat posisi Kota Lama sebagai pusat kegiatan sejarah dan budaya. Kehadiran pameran ini tidak hanya memperkaya pilihan wisata edukasi di Kota Semarang, tetapi juga mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam menghidupkan ruang-ruang sejarah agar tetap relevan, menarik, dan mampu menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat serta wisatawan dari berbagai daerah.














